CERITA

Tentang Ayah dan Anak Perempuan

Zonapendidikan.com | Biasanya, seorang anak perempuan yang sudah dewasa—yang bekerja di perantauan, mengikuti suaminya tinggal jauh dari rumah, atau menempuh pendidikan di kota bahkan negara lain—akan sangat merindukan mamanya.

Mama memang sering menelepon untuk menanyakan kabarmu setiap hari. Namun, tahukah kamu? Sering kali justru Ayahlah yang mengingatkan Mama untuk meneleponmu.

Dulu, saat kamu kecil, Mama mungkin lebih sering mendongeng dan menemanimu bercerita. Tetapi sepulang bekerja, dengan wajah lelahnya, Ayah selalu bertanya kepada Mama tentangmu: bagaimana harimu, apa yang kamu lakukan, dan apakah kamu baik-baik saja.

Saat kamu masih menjadi putri kecilnya, Ayah yang mengajarimu naik sepeda. Ketika Ayah merasa kamu sudah mampu, ia mulai melepaskan roda bantumu.

Mama berkata, “Jangan dulu, Yah… nanti dia jatuh.”

Mama takut kamu terluka. Namun Ayah tetap membiarkanmu mencoba, sambil mengawasi dengan penuh keyakinan. Karena Ayah tahu, putri kecilnya pasti bisa.

Saat kamu menangis meminta boneka atau mainan baru, Mama menatapmu penuh iba. Sedangkan Ayah berkata tegas, “Nanti saja, tidak sekarang.”

Bukan karena Ayah tidak ingin membelikannya, tetapi karena Ayah tidak ingin kamu tumbuh menjadi anak yang selalu mendapatkan semua keinginannya dengan mudah.

Ketika kamu sakit pilek, Ayah mungkin terdengar membentak, “Sudah dibilang jangan minum air dingin!”

Berbeda dengan Mama yang menasihati dengan lembut. Namun ketahuilah, cara Ayah menunjukkan rasa khawatir memang berbeda. Di balik nada tegas itu, ada rasa takut melihat anaknya sakit.

Saat kamu mulai remaja dan meminta izin keluar malam, Ayah berkata, “Tidak boleh.”

Kamu mungkin menganggap Ayah terlalu keras. Padahal, bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia hanya ingin menjagamu.

Kamu marah, masuk kamar, lalu membanting pintu. Mama datang membujukmu agar tenang. Sementara itu, Ayah memilih diam. Tahukah kamu? Dalam diamnya, Ayah sedang menahan dirinya sendiri. Ia ingin memenuhi keinginanmu, tetapi ia juga harus melindungimu.

Ketika seorang laki-laki mulai sering meneleponmu atau datang ke rumah, Ayah memasang wajah paling tenang sedunia. Sesekali ia mengintip dari kejauhan atau pura-pura lewat di depan ruang tamu.

Tahukah kamu? Sebenarnya Ayah sedang cemburu.

Saat kamu mulai diberi kepercayaan lebih untuk pergi bersama teman-temanmu, Ayah diam-diam menunggumu pulang di ruang tamu. Ia terlihat marah ketika kamu pulang terlambat.

Padahal yang sebenarnya dirasakan Ayah adalah takut.

Takut suatu hari nanti putri kecilnya benar-benar pergi meninggalkannya.

Setelah lulus SMA, Ayah mungkin memintamu menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang menurutnya baik untuk masa depanmu. Semua itu bukan karena Ayah ingin memaksamu menjadi seseorang yang bukan dirimu, tetapi karena ia ingin hidupmu terjamin.

Dan meskipun pilihanmu berbeda, Ayah tetap akan tersenyum dan mendukungmu.

Saat tiba waktunya kamu kuliah di kota lain, Ayah mengantarmu ke bandara. Mama menangis sambil memelukmu erat. Sedangkan Ayah hanya tersenyum, menepuk pundakmu, lalu berkata, “Jaga diri baik-baik, ya.”

Bukan karena Ayah tidak sedih. Justru karena ia terlalu sedih, ia memilih terlihat kuat agar kamu juga kuat.

Ketika kamu membutuhkan biaya kuliah dan kebutuhan hidup, Ayah menjadi orang pertama yang memikirkan bagaimana caranya memenuhi semuanya. Ia bekerja lebih keras, menahan lelah, bahkan mungkin mengorbankan banyak hal agar kamu tidak merasa kekurangan.

Dan ketika ada sesuatu yang tidak mampu ia berikan, Ayah hanya berkata, “Belum bisa.”

Padahal dalam hatinya, ia ingin sekali berkata, “Iya, nanti Ayah usahakan.”

Tahukah kamu? Pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya bahagia.

Hari wisudamu tiba. Ayah adalah orang yang berdiri paling bangga memberi tepuk tangan. Dalam senyumnya, ada rasa haru melihat putri kecilnya tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri.

Lalu suatu hari, seorang laki-laki datang meminta izin untuk menikahimu.

Ayah tampak tenang, tetapi sebenarnya hatinya bergetar. Karena ia tahu, laki-laki itu akan mengambil alih perannya untuk menjagamu.

Dan akhirnya, saat Ayah melihatmu duduk di pelaminan bersama pria pilihanmu, ia tersenyum bahagia.

Namun tahukah kamu? Di balik senyum itu, Ayah sempat pergi sebentar ke belakang dan menangis diam-diam.

Dalam doanya ia berkata, “Ya Allah, tugasku telah selesai. Putri kecilku telah tumbuh menjadi wanita yang baik. Jagalah dan bahagiakanlah dia bersama suaminya.”

Setelah itu, Ayah hanya menunggu kedatanganmu sesekali bersama cucu-cucunya. Rambutnya mulai memutih, tubuhnya tak lagi sekuat dulu, tetapi cintanya padamu tidak pernah berkurang.

Ayah… Papah… Bapak… Abah…

Adalah sosok yang sering kali memilih diam untuk menunjukkan cinta.

Ia harus terlihat kuat, bahkan ketika hatinya rapuh. Ia harus terlihat tegas, bahkan ketika sebenarnya ingin memanjakanmu. Dan dialah orang pertama yang selalu percaya bahwa:

“Kamu pasti bisa.”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top